Diantara Genangan dan Keteguhan

DIANTARA GENANGAN DAN KETEGUHAN

Hai jagat Blogspot! Aku kembali menyapa - tepat pada Rabu, 25 Februari 2026. Kembali kusibakkan layar laptop putih yang setia menemaniku, sebuah perangkat berlogo “Acer” yang namanya begitu familiar di berbagai penjuru.

Kehadiranku kali ini bukan sekadar singgah, melainkan membawa segenggam kisah yang telah lama bersemayam, menanti untuk dirangkai menjadi aksara. Pada laman digital inilah, yang dihuni ribuan pasang mata dari berbagai belahan bumi, setiap cerita menemukan denyutnya sendiri.

Semoga jejak kata yang kutorehkan kali ini tak sekadar terbaca, tetapi juga beresonansi - menggema pelan di relung siapa pun yang mampir dan menyempatkan diri.

Sejenak meretas linimasa, tepat pada 27 November 2025 - momen ketika kalender mulai beringsut menuju penghujung tahun. Seorang dara yang berlabuh di Kota Medan, telah menapaki tahun keempat perantauannya di kota itu. Bernaung dalam bilik mungil yang akrab disebut indekos, ruang sederhana itu menjadi saksi bisu perjalanan. Dinding-dindingnya disaput warna putih pucat, menghadirkan kesan hening sekaligus teduh di setiap sudutnya.

Kala itu, sepekan sebelumnya, sejak 20 November 2025 - Kota Medan dilanda curah hujan yang tak berkesudahan. Langit seolah menumpahkan seluruh isinya, tanpa jeda, tanpa kompromi. Rintiknya menjelma deras, menggulung jalanan dan mengetuk atap-atap rumah dengan irama sendu. Seakan cakrawala tengah merapal duka, sementara bumi dengan tabah membentangkan diri, menerima tiap tetesnya tanpa keluh. 

Pagi itu, seorang perempuan berdiri di hadapan papan setrika, merapikan helaian busana yang hendak dikenakannya. Jemarinya bergerak hati-hati, seolah setiap lipatan kain menyimpan tekad untuk melangkah menuju hari yang baru. Ada kesungguhan yang terselip di sela uap hangat yang mengepul - niat yang telah bulat untuk berangkat bekerja, menjemput tanggung jawab yang menanti di luar sana.

Namun pagi itu, rinai tak juga menyurut. Langit masih setia menurunkan butir-butir airnya, seakan enggan memberi celah bagi mentari. Meski demikian, perempuan itu tetap memelihara keyakinan bahwa deras yang mengguyur niscaya akan mereda pada waktunya.

Dengan kepercayaan yang tak goyah, ia mengenakan seragam kerjanya penuh kesiapan, lalu berbenah diri di hadapan cermin. Satu demi satu dirampungkannya dengan cermat - setiap detail dituntaskan seolah menjadi peneguh langkah untuk tetap melaju, apa pun cuaca yang menghadang.

Sebagaimana hari-hari sebelumnya, perlahan namun pasti, air hujan mulai merembes memasuki bilik indekosnya yang sempit. Pada mulanya ia bergumam ringan dalam benak, “Ah, hanya genangan biasa yang kerap singgah.”

Dengan keteguhan yang telah berulang kali ia rajut, ia tetap membungkuk, mengusap lantai yang mulai digenangi, berharap limpahan itu akan menyusut dengan sendirinya. Setiap usapan kain menjadi simbol kesabarannya - sebuah keyakinan bahwa segala yang datang, betapapun mengusik, pada akhirnya akan surut oleh waktu.

Namun surut yang dinanti tak kunjung menyapa. Perlahan, rasa penat merambat, menyusup tanpa permisi. Alih-alih menyusut, genangan justru kian meninggi - menggulung sunyi yang semula masih bisa ditoleransi.

Harapan yang tadinya tegak perlahan diuji; air terus bertambah, seakan menegaskan bahwa pagi itu bukan sekadar tentang hujan, melainkan tentang ketabahan yang sedang dipertaruhkan melalui banjir bandang yang kian waktu semakin besar.

Dengan keadaan yang kian memburuk, di tengah genangan air yang perlahan mengambil alih setiap sudut kamar sempitnya, perempuan itu hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan ruang kecilnya berubah menjadi lautan kecil yang tak diundang. Tak banyak pilihan yang tersisa bagi gadis kecil itu. Ia hanya bisa menyelamatkan apa yang mampu ia jangkau, memindahkan satu per satu barang ke tempat yang lebih tinggi, berharap tak semuanya ikut basah dan hilang bersama air. Ranjang kecil berukuran empat kaki itu menjadi satu-satunya harapan. Di atasnya, ia menumpuk barang-barang berharga, seolah pada kayu dan kasur itulah seluruh harapannya bertumpu. 

Cahaya pagi semakin jelas, dan waktu telah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Namun tak ada langkah yang bisa ia ayunkan menuju tempat kerja. Jalanan di sekitar kosnya telah berubah menjadi aliran air yang menutup setiap akses keluar.

Ia bergegas mengambil ponsel yang setia menemaninya selama empat tahun, terbungkus softcase abu-abu berpadu merah muda yang mulai memudar warnanya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menelusuri daftar kontak, mencari nama atasannya - bersiap menyampaikan kabar bahwa hari itu ia tak mampu hadir menjalankan pekerjaannya.

Setelah itu, ia kembali meletakkan ponselnya di tempat semula. Pandangannya beralih pada genangan air yang kian meninggi, perlahan menguasai ruang kecil itu. Ia sadar, tak ada pilihan lain selain keluar dari bangunan kos berbentuk rumah tersebut.

Sebelum melangkah pergi, perempuan itu merapikan barang-barang yang akan ia bawa. Barang-barang yang harus dibawa dan harus diselamatkan. Bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Di tengah keadaan yang tak berpihak, ia hanya bisa memastikan bahwa yang paling berarti tidak ikut tenggelam bersama air.

Beberapa penghuni kos lainnya juga memilih meninggalkan bangunan itu, menyelamatkan diri sebelum air semakin meninggi. Sementara yang lain masih tertahan di tempat kerja masing-masing, mungkin belum mengetahui sepenuhnya keadaan yang terjadi. Lalu bagaimana dengan barang-barang mereka? Entahlah. Mungkin nasibnya tak jauh berbeda dengan milik perempuan itu - terdiam, terendam, dan menunggu kepastian di tengah genangan yang tak kunjung surut.

Setelah melangkah beberapa langkah, mereka akhirnya tiba di depan pintu utama. Betapa terkejutnya saat mendapati genangan air telah mengepung rumah-rumah warga. Air yang terus meninggi membuat mereka terdiam sejenak, masing-masing memutar pikiran mencari cara agar bisa melewatinya dengan selamat.

Di tangan mereka tergenggam berbagai barang yang sempat diselamatkan. Perempuan itu pun memanggul ransel yang terasa semakin berat, terpasang di bagian depan dan belakang tubuhnya. Dalam kondisi serba terbatas, setiap langkah terasa lebih sulit, seolah beban yang dibawa bukan hanya barang-barang, tetapi juga kecemasan akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hal yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan akhirnya terlintas di benaknya. Perempuan itu memutuskan untuk memberi kabar kepada keluarganya yang tinggal di kota yang sama. Dengan perasaan campur aduk, ia menyampaikan berita yang tentu bukan kabar baik, berharap pesan tersebut segera sampai dan menghadirkan pertolongan dari keluarga satu rahimnya itu.

Perempuan itu kembali mengeluarkan ponsel persegi panjangnya. Dengan napas yang belum sepenuhnya tenang, ia mulai menelusuri satu per satu nama yang tersimpan di layar, mencari sosok yang ingin segera ia hubungi. Hingga akhirnya, terpampang jelas nama saudara kandungnya di sana.

Tanpa ragu, jemarinya bergerak menuju ikon berbentuk telepon. Sekali ditekan - tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi untuk kedua dan ketiga kalinya, namun tetap saja panggilan itu tak direspons dari seberang sana. Rasa cemasnya perlahan berubah menjadi gelisah.

Pada panggilan keempat, dengan harap yang masih tersisa, ia kembali menekan tombol tersebut. Dalam hitungan detik yang terasa begitu panjang, akhirnya panggilan itu tersambung dari seberang sana.

Dengan kalimat yang tersusun panjang dan tak terputus, ia mulai berbicara di dalam sambungan telepon itu. Setiap kata ia pilih dengan hati-hati, berusaha menjelaskan sejelas mungkin agar orang di seberang sana benar-benar memahami keadaan yang sedang ia alami. Ia tak ingin ada yang salah tangkap, tak ingin kepanikannya justru membuat ceritanya terdengar berantakan.

Namun suaranya tak bisa sepenuhnya ia kendalikan. Getaran halus terdengar di setiap ujung kalimat—bukan hanya karena rasa cemas, tetapi juga karena dinginnya air yang sejak tadi merendam sebagian tubuhnya. Sudah cukup lama ia berdiri di genangan itu, membiarkan air memeluk kakinya tanpa ampun, sementara ia berusaha tetap tegar melalui setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Namun, harapan yang semula ia gantungkan pada sambungan telepon itu perlahan runtuh. Ia sempat berpikir bahwa pertolongan akan segera datang, bahwa suaranya yang bergetar tadi akan menjadi alasan seseorang bergegas menjemputnya dari situasi yang tak menentu ini. Sayangnya, kenyataan berkata lain.

Orang yang baru saja ia hubungi ternyata tak mampu memberikan bantuan, meski jarak di antara mereka sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Ada batas yang tak bisa ditembus hanya dengan kedekatan lokasi. Dan dalam sekejap, harapan yang tadi tumbuh kembali, kembali pupus—menyisakan sunyi yang lebih dalam dari sekadar genangan air yang mengelilinginya.

Terasa perih setiap kali penolakan itu datang silih berganti. Dari orang-orang yang semula ia yakini akan berdiri di sisinya, justru tak satu pun mampu mengulurkan tangan. Satu demi satu harapan yang ia bangun runtuh begitu saja, meninggalkan ruang kosong yang sulit ia jelaskan.

Perlahan, ia kembali menata hatinya yang terasa berantakan—meski dalam diam ia sadar, mungkin ekspektasilah yang membuatnya terluka sedalam ini. Ia menarik napas panjang, mencoba merapikan perasaan yang saling bertabrakan di dalam dada.

Di sela dingin yang masih merambat, ia bergumam pelan dalam hati, “Ya sudah, tidak apa-apa. Memang dari dulu semuanya sendiri. Sabar ya… Allah tahu aku kuat, mungkin itu sebabnya ujiannya terasa begitu hebat.”

Tangannya terangkat, mengusap dada yang sesak, seolah mencoba menenangkan gemuruh yang tak terlihat, meyakinkan dirinya bahwa ia masih mampu bertahan - seperti yang sudah-sudah.

Dengan sisa harapan yang masih ia kumpulkan, kembali ia mengangkat telepon genggamnya. Layarnya yang basah oleh percikan air ia usap sekilas, lalu jemarinya bergerak membuka aplikasi Gojek. Ia menelusuri pilihan demi pilihan, berharap ada seorang driver yang bersedia membantunya.

Setidaknya, ia berpikir, jika tak ada yang bisa menolong sepenuhnya, mungkin ada yang mau menjemputnya di depan Pasar Besar. Dari sana, ia berencana berjalan sedikit ke depan, menerobos sisa banjir yang masih menggenang. Bukan solusi yang sempurna, tetapi cukup untuk membuatnya keluar dari situasi yang terasa semakin menyesakkan.

Namun lagi dan lagi, hasilnya tetap nihil. Tidak ada satu pun yang menerima permintaannya. Harapan yang tadi sempat ia bangun kembali, runtuh dengan cara yang sama seperti sebelumnya—pelan, tapi menyakitkan.

Kepalanya terasa penuh. Bingung, lelah, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu tanpa jeda. Ia berdiri diam beberapa saat, mencoba menenangkan pikirannya yang berisik oleh berbagai kemungkinan. Lagi dan lagi, ia harus memutar otak sendirian, mencari cara bagaimana dirinya bisa keluar dari musibah ini.

Di tengah genangan yang tak kunjung surut, ia sadar satu hal—pada akhirnya, ia tetap harus menjadi penolong bagi dirinya sendiri. Dengan solusi terakhir yang ia miliki, ia pun memberanikan diri untuk melangkah. Tak ada lagi yang bisa diandalkan selain keberaniannya sendiri. Satu per satu langkah ia susuri di jalanan yang telah berubah menjadi aliran air keruh itu.

Namun bukannya semakin surut, genangan justru terasa kian meninggi. Yang semula hanya menyentuh mata kaki, perlahan naik hingga lutut. Ia masih mencoba bertahan. Tetapi beberapa meter ke depan, air itu kembali bertambah tinggi - dari selutut, kini merambat hingga ke paha perempuan itu.

Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena dorongan air yang menahan geraknya, tetapi juga karena beban perasaan yang sejak tadi ia pikul sendirian.

Tak hanya sampai di situ. Di tengah usahanya menyusuri banjir yang kian meninggi, ia baru menyadari satu hal yang tak kalah menakutkan - arusnya begitu kuat. Air yang tampak tenang di permukaan ternyata menyimpan dorongan yang tak bisa dianggap remeh.

Langkahnya mulai goyah. Setiap kali ia mencoba mengangkat kaki untuk maju, arus itu seperti menariknya kembali. Tubuhnya yang sudah lelah semakin sulit menjaga keseimbangan. Ia berusaha bertahan, menahan napas, menancapkan kaki sekuat yang ia mampu, tetapi tenaga yang dimilikinya tak sebanding dengan derasnya aliran air.

Di titik itu, ia sadar - melewati banjir ini bukan hanya soal keberanian, melainkan juga soal keselamatan.

Di tengah rasa putus asa yang hampir menguasainya, pertolongan itu akhirnya datang dengan cara yang tak pernah ia duga sebelumnya. Begitu baiknya Allah pada saat itu, seolah jawaban atas doa-doa lirih yang sejak tadi ia panjatkan dalam hati.

Dari kejauhan, terlihat kendaraan Polsek setempat yang tengah berkeliling menyusuri daerah terdampak banjir. Mereka memang sedang melakukan patroli, memantau kondisi lingkungan, sekaligus mencari warga yang membutuhkan bantuan.

Di saat tenaganya hampir habis dan langkahnya mulai goyah oleh derasnya arus, kehadiran mereka terasa seperti cahaya di tengah genangan yang tak bertepi. Pertolongan itu akhirnya benar-benar datang - bukan dari yang ia sangka, melainkan dari tangan-tangan yang memang diutus untuk menjaga dan melindungi.

Saat itu, mobil polisi tersebut perlahan melintasi genangan banjir yang masih deras mengalir. Sorot lampunya memantul di permukaan air yang keruh, membelah jalan yang hampir tak lagi terlihat bentuk aslinya.

Melihat kendaraan itu semakin mendekat, tanpa ragu ia mengumpulkan sisa tenaga yang ada. Dengan suara khasnya - yang kini bercampur antara dingin, lelah, dan harap - ia berteriak, “Tolong, Pak… tolong, Pak…” berulang kali dengan kalimat yang sama.

Tak ada lagi yang ia pikirkan selain bagaimana suaranya bisa terdengar. Di tengah derasnya arus dan gemuruh hujan yang tersisa, teriakan itu menjadi satu-satunya cara agar keberadaannya disadari—agar ia tidak lagi berjuang sendirian di tengah banjir yang hampir menelannya.

Dengan sigap, mobil itu menghentikan lajunya tak jauh dari tempat perempuan itu berdiri. Pintu kendaraan segera terbuka, dan seorang bapak polisi turun tanpa ragu, menerobos air yang masih mengalir deras untuk menolong warga yang terjebak di tengah banjir.

Perempuan itu, dengan payung yang sejak tadi ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari sisa hujan, berusaha mendekat sebisanya. Tangannya ia ulurkan perlahan, penuh harap, ingin memastikan bahwa ia juga terlihat - bahwa ia pun bagian dari warga yang membutuhkan pertolongan saat itu.

Di balik payung yang hampir tak lagi berguna menahan dingin, ada tatapan yang menyimpan campuran antara lelah dan lega. Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, ia merasa tidak sepenuhnya sendiri.

Tanpa benar-benar ia sadari, penampilannya saat itu jauh dari kata siap menghadapi keadaan seburuk ini. Ia hanya mengenakan hoodie abu-abu dengan penutup kepala yang sejak tadi ia tarik menutupi rambutnya, seolah itu cukup untuk melindunginya dari dingin dan hujan. Di bagian bawah, ia memakai legging pendek yang panjangnya hanya sebatas paha—pakaian rumahan yang sama sekali tak dirancang untuk berdiri lama di genangan air setinggi itu.

Masker duckbill berwarna putih masih setia menutupi sebagian wajahnya, entah untuk melindungi diri dari udara kotor atau sekadar menjadi tameng tipis bagi ekspresi lelah yang tak ingin ia perlihatkan.

Dalam keadaan sederhana dan seadanya itu, ia berdiri di tengah banjir, tanpa persiapan, tanpa perlindungan yang memadai—hanya dengan keberanian yang tersisa dan harapan agar semuanya segera berakhir.

Saat itu, di tengah keadaan yang serba tidak terduga, ia mulai menyadari sesuatu yang lain—penampilannya. Dengan hoodie yang basah, legging pendek yang tak pernah ia pakai untuk keluar rumah, dan kondisi yang bisa dibilang kacau, ia merasa seperti sedang melihat versi dirinya yang bukan dirinya.

Ada kekhawatiran yang pelan-pelan menyelinap di benaknya. Bagaimana jika ada seseorang yang mengenalinya? Bagaimana jika ada teman, kenalan, atau orang yang pernah terlibat dalam hidupnya melihatnya dalam keadaan seperti ini? Ia sempat berpikir, akan ia letakkan di mana wajahnya jika itu benar-benar terjadi.

Semua orang yang mengenalnya tahu satu hal tentang dirinya: ia bukan tipe gadis yang keluar rumah tanpa hijab. Bukan juga pribadi yang terlalu terbuka tentang dirinya. Ia memang tidak merasa dirinya paling salehah, tetapi ia selalu menjaga batas yang ia yakini. Dan hari itu, dalam situasi yang tak ia rencanakan, batas itu terasa seperti runtuh oleh keadaan.

Namun di balik rasa malu dan cemas itu, ada pelajaran yang diam-diam mengetuk hatinya - bahwa terkadang, hidup menempatkan kita pada situasi yang tak memberi ruang untuk terlihat sempurna. Yang ada hanya tentang bertahan.

Ia akhirnya duduk di bangku belakang mobil patroli itu, dengan atap yang terbuka dan angin dingin masih menyentuh wajahnya. Air yang melekat di pakaian belum sepenuhnya kering, namun setidaknya ia sudah tidak lagi berdiri melawan arus. Bukan hanya dirinya, beberapa penghuni kos lainnya pun ikut duduk bersamanya—wajah-wajah lelah dengan cerita yang hampir serupa.

Di sepanjang perjalanan singkat itu, pikirannya kembali berkelana. Ia sempat membatin, “Entah di mana pun nanti aku diturunkan oleh bapak polisi ini, sekalipun tidak ada driver Gojek yang bisa menjemput, aku akan tetap berjalan. Aku akan mencari rumah siapa saja yang bisa aku singgahi.”

Baginya saat itu, yang terpenting bukan lagi soal nyaman atau tidak. Bukan juga soal gengsi atau rasa malu. Ia hanya ingin menemukan tempat yang aman untuk berteduh, sekadar beristirahat dari hari yang terasa begitu panjang. Di bangku belakang mobil dengan atap terbuka itu, ia belajar satu hal lagi - kadang bertahan berarti siap melangkah ke mana saja, selama itu membawamu lebih jauh dari bahaya.

Pada akhirnya, kami yang dievakuasi oleh Bapak Polisi itu dibawa menuju salah satu kantor kelurahan di kawasan Medan Timur. Di sanalah untuk sementara waktu kami dipindahkan, menjauh dari rumah yang sudah dikepung air.

Ternyata, bukan hanya kami yang berada dalam situasi itu. Kantor kelurahan tersebut sudah lebih dulu dipenuhi oleh warga lain yang juga menjadi korban banjir. Beberapa di antara mereka datang dengan pakaian seadanya, wajah lelah, dan tatapan kosong yang menyimpan banyak rasa - khawatir, bingung, sekaligus pasrah.

Hari itu, kantor pemerintahan yang biasanya dipenuhi urusan administrasi, berubah menjadi tempat berlindung. Ruangan-ruangan yang biasa sunyi mendadak ramai oleh suara anak-anak, obrolan pelan para orang tua, serta langkah kaki yang hilir mudik mencari tempat untuk sekadar duduk dan beristirahat.

Di sinilah perempuan malang itu akhirnya berteduh. Di tengah kerumunan orang-orang asing yang bahkan namanya pun tak ia ketahui satu per satu. Mereka duduk berdampingan tanpa saling mengenal, namun dipersatukan oleh musibah yang sama.

Ia berusaha terlihat tegar, meski hatinya penuh sesak. Di antara warga lain yang juga menjadi korban, ia menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa rapuh yang sejak tadi ingin tumpah. Sesekali ia menunduk, merapikan pakaian yang sudah tak lagi rapi, berharap penampilannya saat itu tidak terlalu menjadi perhatian.

Lebih dari itu, ada satu ketakutan kecil yang terus mengusik pikirannya - semoga tidak ada seorang pun di lokasi itu yang mengenalinya. Ia belum siap jika harus menjelaskan keadaannya, belum siap jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin datang dengan rasa iba. Saat itu, yang ia inginkan hanya satu: menjadi bagian dari keramaian tanpa benar-benar terlihat.

Perempuan itu pun melangkah pelan menuju bangku berwarna biru yang telah disediakan untuknya. Dengan sigap ia duduk, lalu perlahan menurunkan barang-barang yang sejak tadi setia ia pikul - seolah bukan hanya tas dan bawaan yang ia lepaskan, tetapi juga sedikit beban yang menyesaki pundaknya.

Belum lama ia menenangkan diri, seorang petugas perempuan menghampirinya. Wajahnya ramah, meski terlihat lelah setelah seharian membantu para korban banjir. Di tangannya, ia membawa sebungkus nasi yang dibalut kertas cokelat sederhana, serta segelas air mineral kemasan kecil.

Tanpa banyak kata, bantuan itu diberikan dengan tulus. Bungkusan nasi hangat dan air mineral sederhana itu terasa lebih dari sekadar makanan - ia seperti isyarat bahwa di tengah kekacauan dan kehilangan, masih ada kepedulian yang bekerja dalam diam.

Gadis malang itu pun segera mengangkat wajahnya dan mengucapkan, “Terima kasih banyak, Ibu,” dengan suara yang sedikit terburu-buru, seolah takut kesempatan itu menguap begitu saja. Ada rasa syukur yang tulus dalam nada bicaranya.

Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka bungkusan nasi berbalut kertas cokelat itu. Tangannya bergerak cepat, namun tetap hati-hati. Barulah ia sadar, sejak pagi tadi dirinya belum benar-benar mengisi tenaga. Dalam kekacauan yang datang tiba-tiba, ia bahkan lupa bahwa tubuhnya juga butuh “amunisi” untuk bertahan.

Aroma nasi hangat yang sederhana itu terasa begitu menenangkan. Di tengah rasa lelah, cemas, dan pikiran yang tak menentu, suapan pertama menjadi pengingat bahwa ia masih harus kuat - setidaknya untuk hari itu.

Setelah menyelesaikan makanannya hari itu, ia kembali terdiam sejenak. Lalu perlahan, tangannya merogoh saku ransel yang sejak tadi setia berada di pangkuannya. Ia mencari ponsel, satu-satunya alat yang menurutnya masih bisa membuka harapan.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi Gojek. Lagi-lagi, ia mencoba memesan perjalanan. Lagi-lagi pula, ia menggantungkan sedikit harap pada notifikasi kecil yang mungkin saja muncul—tanda bahwa seorang driver bersedia datang dan membawanya pergi dari situasi yang serba tak pasti ini.

Namun seperti sebelumnya, layar ponsel itu tetap dingin. Tidak ada driver yang tersedia. Tidak ada titik hijau yang bergerak mendekat. Jawabannya tetap sama: nihil. Ia menghela napas panjang. Untuk kesekian kalinya, harapan kecil yang ia rajut dengan tergesa harus ia lepaskan kembali.

Entah dari mana datangnya ide itu, tiba-tiba saja ia meraih ransel hitam kesayangannya - ransel yang selalu setia menemaninya ke mana pun pergi. Ia kembali mengenakan kebahunya yang sempat dilepas, menarik napas pelan seolah sedang menguatkan diri sendiri.

Dengan langkah hati-hati, ia menghampiri petugas pertolongan banjir dan berpamitan. Suaranya terdengar lirih namun tegas; ia harus melanjutkan perjalanan. Ia memutuskan untuk mencari kendaraan yang bersedia mengantarkannya menuju tempat tujuan, meski di tengah situasi yang belum sepenuhnya bersahabat.

Kurang lebih setelah melangkah sekitar tiga puluh langkah kaki, akhirnya ia menemukan kendaraan yang bersedia mengantarkannya menuju tempat tujuan. Di tengah situasi yang serba tak pasti, pertemuan itu terasa seperti secercah harapan.

Dengan sedikit semangat yang kembali tumbuh, ia pun segera naik dan duduk di bangku penumpang. Ada rasa lega yang tak bisa disembunyikan - setidaknya, untuk saat itu, ia tahu bahwa perjalanannya akan terus berlanjut.

Di sinilah perempuan itu berada sekarang - di rumah saudara sedarahnya. Setibanya di sana, tanpa banyak bicara, ia langsung membersihkan diri dari sisa-sisa kotoran yang menempel di setiap lekuk tubuhnya, seakan ingin turut meluruhkan lelah dan kecemasan yang sejak tadi ia tahan.

Secara fisik, keadaannya sudah bisa dibilang cukup aman. Ia tak lagi dikejar genangan air atau ketidakpastian jalanan. Namun, berbeda dengan tubuhnya yang mulai terasa tenang, isi kepalanya justru masih riuh. Pikiran-pikiran itu belum juga reda, seolah terus mengulang kejadian demi kejadian yang baru saja ia lalui.

Setelah menyelesaikan ritual mandinya, ia mulai berbenah dan merapikan kembali barang-barang yang sempat ia bawa. Dalam suasana yang mulai tenang, pikirannya kembali menelusuri runtutan kejadian yang ia alami sepanjang hari itu. Ia menyadari betapa cerobohnya dirinya menghadapi situasi banjir yang sebenarnya sudah terjadi di banyak tempat. Seharusnya, ia bisa lebih waspada dan mengantisipasi kemungkinan itu terjadi pada dirinya.

Dengan menarik napas dalam-dalam, ia mencoba menenangkan diri. Perlahan ia menerima bahwa semua yang terjadi hari ini adalah sebuah ujian yang Tuhan berikan kepadanya. Mungkin, ujian ini memang dipercayakan kepadanya karena ia dianggap mampu untuk melewatinya.

Kembali, gadis kecil yang sering dijuluki si anak bungsu itu mencoba menyusun strategi. Ia memikirkan bagaimana caranya bisa kembali ke kosnya untuk menyelamatkan sekaligus membersihkan barang-barang yang ia tinggalkan. Terlebih lagi, sepeda motornya masih terparkir di garasi kos tersebut.

Berbagai kemungkinan mulai ia pikirkan. Siapa kira-kira yang dapat membantunya menguras air yang sempat menggenangi kamar, mencuci pakaian yang terkena banjir, hingga menjemur springbed yang tentu saja tidak ringan untuk diangkat seorang diri. Semua itu berputar-putar di dalam pikirannya, seolah menuntut jawaban secepat mungkin.

Setelah memerlukan waktu yang cukup lama untuk mempertimbangkannya, akhirnya ia memberanikan diri meminta pertolongan kepada salah satu kerabatnya. Namun, lagi-lagi ada saja hambatan yang datang dari orang tersebut. Harapan yang sempat ia bangun perlahan kembali runtuh.

Sejenak ia terdiam, mencoba menenangkan pikirannya yang kembali dipenuhi berbagai kemungkinan. Pada akhirnya, ia hanya bisa menarik napas panjang dan berkata dalam hati, “Ya sudah, tidak apa-apa. Aku akan menyelesaikannya sendiri.”

Tak lama setelah itu, ia pun memejamkan matanya dan perlahan terlelap ke dalam alam mimpi. Perempuan yang pada akhirnya hanya mengandalkan dirinya sendiri itu memilih untuk beristirahat sejenak, memberi waktu bagi tubuh dan pikirannya untuk pulih selama beberapa jam ke depan.

Segala kepenatan yang ia rasakan hari itu seolah membawa pikirannya melayang kembali pada masa remajanya. Masa yang seharusnya bisa ia habiskan dengan bebas di luar sana, tertawa dan berkumpul bersama teman-temannya. Namun kenyataannya, hidup justru mengajarkannya banyak hal lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Malam pun telah berlalu. Pagi yang rasanya tidak begitu ia tunggu akhirnya datang menyapa. Ia yang sempat berbaring menikmati waktu istirahat yang terasa begitu singkat, dengan sedikit rasa terpaksa akhirnya bangkit dari tidurnya.

Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk menjalani ritual mandi paginya. Tak berselang lama, ia pun keluar dari kamar mandi dan segera menunaikan shalat Subuhnya - shalat sederhana yang hanya terdiri dari dua rakaat, namun terasa begitu menenangkan di tengah berbagai hal yang sedang ia hadapi.

Bersiap untuk segera kembali ke kosnya, ia mengenakan pakaian sederhana: celana kulot berwarna hitam yang dipadukan dengan hoodie abu-abu. Penampilannya terlihat santai, namun cukup untuk menemaninya menjalani hari yang panjang.

Seperti biasa, ia kembali mengenakan maskernya. Entah untuk alasan kesehatan atau sekadar agar tidak terlalu dikenali ketika berada di tengah keramaian. Tak lama kemudian, pengemudi Gojek yang sejak tadi ia pesan akhirnya tiba di depan pintu. Tanpa membuang banyak waktu, ia pun bersiap melangkah keluar untuk kembali menghadapi keadaan yang menantinya di kos.

Sepanjang perjalanan, sudut-sudut jalanan satu per satu ia lewati. Pagi itu sudah dipenuhi oleh aktivitas masyarakat yang bergegas menuju tempat kerja masing-masing. Di beberapa sisi jalan, terlihat pula para pedagang yang mulai menggelar dagangan sayur-mayur di pinggiran pasar, menata harapan mereka sejak pagi buta.

Di tengah perjalanan yang perlahan melintasi keramaian itu, pikirannya justru dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari dalam hati. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar sanggup melewati hari-hari buruk seperti ini. Siapa yang sebenarnya selalu siap menyediakan pundak ketika ia merasa lelah?

Ia juga mulai bertanya-tanya, apakah orang-orang di sekitarnya selalu menganggap dirinya kuat. Apakah mereka percaya bahwa ia mampu menyelesaikan semua masalahnya sendiri? Ataukah tanpa disadari, mereka justru membiarkannya berdiri sendirian di titik gelap kehidupannya - titik yang bahkan ia sendiri tidak tahu kapan akan berubah kembali menjadi terang.

Kembali ia tersadar dari lamunannya sendiri. Tak lama kemudian, ia pun tiba di tempat yang ditujunya, yaitu bangunan kos yang sebelumnya telah digenangi air. Pemandangan yang ia lihat masih sama seperti sebelumnya—kacau dan berantakan. Sampah-sampah yang hanyut terbawa arus air tersangkut di sekitar bangunan kos, sementara lumpur tampak berserakan di setiap sudutnya.

Dengan langkah yang berat, ia pun memasuki pekarangan bangunan itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus membersihkan kamar kosnya. Meski jauh di dalam hatinya ia sudah tahu, rasa penat yang tak kunjung usai akan kembali menghampiri tubuh kecilnya.

Langkah demi langkah ia telusuri halaman bangunan itu hingga pandangannya tertuju ke arah garasi, tempat ia biasa memarkirkan motornya. Setelah banjir besar yang sempat menghampiri Kota Medan pada malam itu, ia mendapati motornya tidak mengalami kerusakan yang berarti. Hanya saja, motor tersebut tampaknya perlu segera mengganti oli.

Ia kembali melangkah, melewati satu per satu kamar kos di dalam bangunan putih itu. Hingga akhirnya ia sampai di bagian paling ujung, tempat kamar miliknya berada. Di sana, ia terdiam sejenak. Pandangannya menyapu ruangan yang ada di hadapannya, sementara pikirannya sibuk bertanya: dari mana ia harus memulai membersihkan semua ini?

Jika banyak yang ingin mengetahui bagaimana kondisi kamarnya saat itu, pemandangannya sungguh menyayat hati. Peralatan makan miliknya terendam air, springbed tempat ia biasa beristirahat basah kuyup, dan pakaian yang sering ia kenakan pun tak luput dari dinginnya air banjir. Buku-buku yang selama ini menemaninya menimba ilmu di bangku universitas, bahkan yang menjadi tempatnya menuliskan berbagai keluh kesah, juga ikut terendam air.

Satu per satu ia membereskannya dengan perlahan. Dimulai dari mengumpulkan alat makan, merendam pakaian yang basah, hingga menguras sisa air yang masih menggenangi lantai kamarnya.

Saat itu, banyak orang menyarankan agar ia “melaundry-kan saja pakaian-pakaian itu.” Namun, lagi-lagi pola pikirnya yang selalu menghitung segala sesuatu seperti kalkulator muncul kembali. Selama ia masih mampu menyelesaikannya dengan kedua tangannya sendiri, ia merasa tak perlu mengeluarkan uang untuk hal-hal yang menurutnya masih bisa ia tangani.

4 hari berturut-turut ia menghadapi kekumuhan kamar itu, semua ia selesaikan dengan sendiri. ia juga sempat membuat jemurannya sendiri agar tidak berebut dengan penghuni kos lainnya. untungnya atasannya ditempat kerja berbaik hati memberikan ia cuti selama 4 hari itu. 

Banjir memang telah berlalu, dan kehidupan perlahan kembali berjalan seperti biasa. Begitu juga dengan perempuan ini. Ia kembali menjalani rutinitas hariannya—berangkat kerja di pagi hari dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya, seolah tidak ada yang berubah.

Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang berbeda darinya setelah peristiwa banjir itu. Cara berjalannya tidak lagi seperti biasanya. Langkahnya tampak berat dan tidak stabil, jauh dari kesan normal seperti hari-hari sebelumnya.

Setelah disadari, ternyata banjir tersebut meninggalkan dampak yang tidak ringan bagi dirinya. Kakinya mengalami cedera—betisnya tampak membengkak, sementara telapak kakinya mengalami luka hingga kulitnya terkelupas. Memar terlihat jelas, menandakan rasa perih yang kemungkinan besar masih ia rasakan hingga sekarang.

Meski begitu, ia tetap memilih untuk bangkit dan kembali bekerja, menjalani hari dengan segala keterbatasan yang ada. Sebuah gambaran sederhana tentang keteguhan dan perjuangan setelah bencana berlalu. ia tetap tersenyum. Tawa kecilnya masih terdengar ketika teman-teman sekantornya melemparkan candaan di hadapannya, seolah-olah tidak ada beban yang sedang ia pikul. Ia menyembunyikan rasa sakitnya di balik sikap hangat dan semangat yang tidak surut.

Dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih, ia tetap menuntaskan pekerjaannya. Setiap langkah mungkin terasa perih, tetapi tekadnya untuk terus melangkah jauh lebih besar daripada rasa sakit yang ia rasakan. Sebuah potret keteguhan hati yang sederhana, namun begitu kuat.

Di tengah genangan air yang perlahan surut, ternyata ada hal lain yang masih tertinggal dan sulit untuk benar-benar pergi: rasa sesak di dalam dada. Air yang memenuhi kamar mungkin bisa dikuras. Pakaian yang basah masih bisa dicuci dan dijemur kembali. Barang-barang yang rusak perlahan bisa diganti. Namun, tidak dengan perasaan yang terlanjur lelah.

Musibah ini seolah mengajarkan dirinya satu hal yang selama ini sering luput dari perhatian: tidak semua orang yang kita kabari akan datang membawa pertolongan, dan tidak semua orang yang dekat akan benar-benar hadir saat kita sedang berada di titik terendah.

"Ada kalanya, hidup memang memaksa kita untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri."

Di perantauan yang jauh dari rumah, jauh dari pelukan ibu, jauh dari sosok ayah yang biasanya sigap membantu, dirinya akhirnya benar-benar memahami arti kata sendiri. Bukan hanya sendiri secara tempat, tetapi juga sendiri dalam menghadapi rasa takut, lelah, dan kecewa.

"Namun dari titik itu pula, ia belajar bahwa ternyata dirinya jauh lebih kuat dari yang selama ini ia kira."

Di tengah kondisi yang kacau, tubuh yang letih, dan hati yang dipenuhi berbagai pertanyaan, ia masih mampu bertahan. Ia masih mampu membereskan satu per satu kekacauan yang ada. Ia masih mampu menenangkan pikirannya sendiri, meski tidak ada bahu tempat bersandar.

Mungkin inilah cara semesta, atau mungkin cara Allah, menunjukkan bahwa pertolongan tidak selalu datang melalui manusia.

Terkadang, pertolongan itu hadir dalam bentuk kekuatan yang tiba-tiba tumbuh di dalam diri. Dalam bentuk hati yang tetap sabar. Dalam bentuk pikiran yang masih diberi ketenangan untuk mencari jalan keluar.

Dari musibah ini, dirinya tidak hanya belajar tentang banjir, kehilangan, atau kerasnya keadaan. Ia juga belajar tentang manusia, tentang ekspektasi, dan tentang pentingnya tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi pada siapa pun selain Allah.

Sebab pada akhirnya, saat semua terasa runtuh, hanya diri sendiri dan Tuhan yang benar-benar tetap tinggal.

Dan dari malam yang penuh air mata itu, ia tahu satu hal: ia berhasil melewatinya.

Meski tertatih, meski sendiri, meski penuh luka.

Ia tetap berhasil bertahan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

🌷 Ketika Kata Menemukan Rumahnya

Halo Dunia, Ini Aku!