Diantara Genangan dan Keteguhan
DIANTARA GENANGAN DAN KETEGUHAN
Hai jagat Blogspot! Aku kembali menyapa - tepat pada Rabu, 25 Februari 2026. Kembali kusibakkan layar laptop putih yang setia menemaniku, sebuah perangkat berlogo “Acer” yang namanya begitu familiar di berbagai penjuru.
Kehadiranku kali ini bukan sekadar singgah, melainkan membawa segenggam kisah yang telah lama bersemayam, menanti untuk dirangkai menjadi aksara. Pada laman digital inilah, yang dihuni ribuan pasang mata dari berbagai belahan bumi, setiap cerita menemukan denyutnya sendiri.
Semoga jejak kata yang kutorehkan kali ini tak sekadar terbaca, tetapi juga beresonansi - menggema pelan di relung siapa pun yang mampir dan menyempatkan diri.
Kala itu, sepekan sebelumnya, sejak 20 November 2025 - Kota Medan dilanda curah hujan yang tak berkesudahan. Langit seolah menumpahkan seluruh isinya, tanpa jeda, tanpa kompromi. Rintiknya menjelma deras, menggulung jalanan dan mengetuk atap-atap rumah dengan irama sendu. Seakan cakrawala tengah merapal duka, sementara bumi dengan tabah membentangkan diri, menerima tiap tetesnya tanpa keluh.
Pagi itu, seorang perempuan berdiri di hadapan papan setrika, merapikan helaian busana yang hendak dikenakannya. Jemarinya bergerak hati-hati, seolah setiap lipatan kain menyimpan tekad untuk melangkah menuju hari yang baru. Ada kesungguhan yang terselip di sela uap hangat yang mengepul - niat yang telah bulat untuk berangkat bekerja, menjemput tanggung jawab yang menanti di luar sana.
Namun pagi itu, rinai tak juga menyurut. Langit masih setia menurunkan butir-butir airnya, seakan enggan memberi celah bagi mentari. Meski demikian, perempuan itu tetap memelihara keyakinan bahwa deras yang mengguyur niscaya akan mereda pada waktunya.
Dengan kepercayaan yang tak goyah, ia mengenakan seragam kerjanya penuh kesiapan, lalu berbenah diri di hadapan cermin. Satu demi satu dirampungkannya dengan cermat - setiap detail dituntaskan seolah menjadi peneguh langkah untuk tetap melaju, apa pun cuaca yang menghadang.
Sebagaimana hari-hari sebelumnya, perlahan namun pasti, air hujan mulai merembes memasuki bilik indekosnya yang sempit. Pada mulanya ia bergumam ringan dalam benak, “Ah, hanya genangan biasa yang kerap singgah.”
Dengan keteguhan yang telah berulang kali ia rajut, ia tetap membungkuk, mengusap lantai yang mulai digenangi, berharap limpahan itu akan menyusut dengan sendirinya. Setiap usapan kain menjadi simbol kesabarannya - sebuah keyakinan bahwa segala yang datang, betapapun mengusik, pada akhirnya akan surut oleh waktu.
Namun surut yang dinanti tak kunjung menyapa. Perlahan, rasa penat merambat, menyusup tanpa permisi. Alih-alih menyusut, genangan justru kian meninggi - menggulung sunyi yang semula masih bisa ditoleransi.
Harapan yang tadinya tegak perlahan diuji; air terus bertambah, seakan menegaskan bahwa pagi itu bukan sekadar tentang hujan, melainkan tentang ketabahan yang sedang dipertaruhkan melalui banjir bandang yang kian waktu semakin besar.
Dengan keadaan yang kian memburuk, di tengah genangan air yang perlahan mengambil alih setiap sudut kamar sempitnya, perempuan itu hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan ruang kecilnya berubah menjadi lautan kecil yang tak diundang. Tak banyak pilihan yang tersisa bagi gadis kecil itu. Ia hanya bisa menyelamatkan apa yang mampu ia jangkau, memindahkan satu per satu barang ke tempat yang lebih tinggi, berharap tak semuanya ikut basah dan hilang bersama air. Ranjang kecil berukuran empat kaki itu menjadi satu-satunya harapan. Di atasnya, ia menumpuk barang-barang berharga, seolah pada kayu dan kasur itulah seluruh harapannya bertumpu.
Cahaya pagi semakin jelas, dan waktu telah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Namun tak ada langkah yang bisa ia ayunkan menuju tempat kerja. Jalanan di sekitar kosnya telah berubah menjadi aliran air yang menutup setiap akses keluar.
Ia bergegas mengambil ponsel yang setia menemaninya selama empat tahun, terbungkus softcase abu-abu berpadu merah muda yang mulai memudar warnanya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menelusuri daftar kontak, mencari nama atasannya - bersiap menyampaikan kabar bahwa hari itu ia tak mampu hadir menjalankan pekerjaannya.
Setelah itu, ia kembali meletakkan ponselnya di tempat semula. Pandangannya beralih pada genangan air yang kian meninggi, perlahan menguasai ruang kecil itu. Ia sadar, tak ada pilihan lain selain keluar dari bangunan kos berbentuk rumah tersebut.
Sebelum melangkah pergi, perempuan itu merapikan barang-barang yang akan ia bawa. Barang-barang yang harus dibawa dan harus diselamatkan. Bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Di tengah keadaan yang tak berpihak, ia hanya bisa memastikan bahwa yang paling berarti tidak ikut tenggelam bersama air.
Beberapa penghuni kos lainnya juga memilih meninggalkan bangunan itu, menyelamatkan diri sebelum air semakin meninggi. Sementara yang lain masih tertahan di tempat kerja masing-masing, mungkin belum mengetahui sepenuhnya keadaan yang terjadi. Lalu bagaimana dengan barang-barang mereka? Entahlah. Mungkin nasibnya tak jauh berbeda dengan milik perempuan itu - terdiam, terendam, dan menunggu kepastian di tengah genangan yang tak kunjung surut.
Setelah melangkah beberapa langkah, mereka akhirnya tiba di depan pintu utama. Betapa terkejutnya saat mendapati genangan air telah mengepung rumah-rumah warga. Air yang terus meninggi membuat mereka terdiam sejenak, masing-masing memutar pikiran mencari cara agar bisa melewatinya dengan selamat.
Di tangan mereka tergenggam berbagai barang yang sempat diselamatkan. Perempuan itu pun memanggul ransel yang terasa semakin berat, terpasang di bagian depan dan belakang tubuhnya. Dalam kondisi serba terbatas, setiap langkah terasa lebih sulit, seolah beban yang dibawa bukan hanya barang-barang, tetapi juga kecemasan akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hal yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan akhirnya terlintas di benaknya. Perempuan itu memutuskan untuk memberi kabar kepada keluarganya yang tinggal di kota yang sama. Dengan perasaan campur aduk, ia menyampaikan berita yang tentu bukan kabar baik, berharap pesan tersebut segera sampai dan menghadirkan pertolongan dari keluarga satu rahimnya itu.
Perempuan itu kembali mengeluarkan ponsel persegi panjangnya. Dengan napas yang belum sepenuhnya tenang, ia mulai menelusuri satu per satu nama yang tersimpan di layar, mencari sosok yang ingin segera ia hubungi. Hingga akhirnya, terpampang jelas nama saudara kandungnya di sana.
Tanpa ragu, jemarinya bergerak menuju ikon berbentuk telepon. Sekali ditekan - tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi untuk kedua dan ketiga kalinya, namun tetap saja panggilan itu tak direspons dari seberang sana. Rasa cemasnya perlahan berubah menjadi gelisah.
Pada panggilan keempat, dengan harap yang masih tersisa, ia kembali menekan tombol tersebut. Dalam hitungan detik yang terasa begitu panjang, akhirnya panggilan itu tersambung dari seberang sana.
Dengan kalimat yang tersusun panjang dan tak terputus, ia mulai berbicara di dalam sambungan telepon itu. Setiap kata ia pilih dengan hati-hati, berusaha menjelaskan sejelas mungkin agar orang di seberang sana benar-benar memahami keadaan yang sedang ia alami. Ia tak ingin ada yang salah tangkap, tak ingin kepanikannya justru membuat ceritanya terdengar berantakan.
Namun suaranya tak bisa sepenuhnya ia kendalikan. Getaran halus terdengar di setiap ujung kalimat—bukan hanya karena rasa cemas, tetapi juga karena dinginnya air yang sejak tadi merendam sebagian tubuhnya. Sudah cukup lama ia berdiri di genangan itu, membiarkan air memeluk kakinya tanpa ampun, sementara ia berusaha tetap tegar melalui setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Namun, harapan yang semula ia gantungkan pada sambungan telepon itu perlahan runtuh. Ia sempat berpikir bahwa pertolongan akan segera datang, bahwa suaranya yang bergetar tadi akan menjadi alasan seseorang bergegas menjemputnya dari situasi yang tak menentu ini. Sayangnya, kenyataan berkata lain.
Orang yang baru saja ia hubungi ternyata tak mampu memberikan bantuan, meski jarak di antara mereka sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Ada batas yang tak bisa ditembus hanya dengan kedekatan lokasi. Dan dalam sekejap, harapan yang tadi tumbuh kembali, kembali pupus—menyisakan sunyi yang lebih dalam dari sekadar genangan air yang mengelilinginya.
Terasa perih setiap kali penolakan itu datang silih berganti. Dari orang-orang yang semula ia yakini akan berdiri di sisinya, justru tak satu pun mampu mengulurkan tangan. Satu demi satu harapan yang ia bangun runtuh begitu saja, meninggalkan ruang kosong yang sulit ia jelaskan.
Perlahan, ia kembali menata hatinya yang terasa berantakan—meski dalam diam ia sadar, mungkin ekspektasilah yang membuatnya terluka sedalam ini. Ia menarik napas panjang, mencoba merapikan perasaan yang saling bertabrakan di dalam dada.
Di sela dingin yang masih merambat, ia bergumam pelan dalam hati, “Ya sudah, tidak apa-apa. Memang dari dulu semuanya sendiri. Sabar ya… Allah tahu aku kuat, mungkin itu sebabnya ujiannya terasa begitu hebat.”
Tangannya terangkat, mengusap dada yang sesak, seolah mencoba menenangkan gemuruh yang tak terlihat, meyakinkan dirinya bahwa ia masih mampu bertahan - seperti yang sudah-sudah.
Dengan sisa harapan yang masih ia kumpulkan, kembali ia mengangkat telepon genggamnya. Layarnya yang basah oleh percikan air ia usap sekilas, lalu jemarinya bergerak membuka aplikasi Gojek. Ia menelusuri pilihan demi pilihan, berharap ada seorang driver yang bersedia membantunya.
Setidaknya, ia berpikir, jika tak ada yang bisa menolong sepenuhnya, mungkin ada yang mau menjemputnya di depan Pasar Besar. Dari sana, ia berencana berjalan sedikit ke depan, menerobos sisa banjir yang masih menggenang. Bukan solusi yang sempurna, tetapi cukup untuk membuatnya keluar dari situasi yang terasa semakin menyesakkan.
Namun lagi dan lagi, hasilnya tetap nihil. Tidak ada satu pun yang menerima permintaannya. Harapan yang tadi sempat ia bangun kembali, runtuh dengan cara yang sama seperti sebelumnya—pelan, tapi menyakitkan.
Kepalanya terasa penuh. Bingung, lelah, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu tanpa jeda. Ia berdiri diam beberapa saat, mencoba menenangkan pikirannya yang berisik oleh berbagai kemungkinan. Lagi dan lagi, ia harus memutar otak sendirian, mencari cara bagaimana dirinya bisa keluar dari musibah ini.
Di tengah genangan yang tak kunjung surut, ia sadar satu hal—pada akhirnya, ia tetap harus menjadi penolong bagi dirinya sendiri. Dengan solusi terakhir yang ia miliki, ia pun memberanikan diri untuk melangkah. Tak ada lagi yang bisa diandalkan selain keberaniannya sendiri. Satu per satu langkah ia susuri di jalanan yang telah berubah menjadi aliran air keruh itu.
Namun bukannya semakin surut, genangan justru terasa kian meninggi. Yang semula hanya menyentuh mata kaki, perlahan naik hingga lutut. Ia masih mencoba bertahan. Tetapi beberapa meter ke depan, air itu kembali bertambah tinggi - dari selutut, kini merambat hingga ke paha perempuan itu.
Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena dorongan air yang menahan geraknya, tetapi juga karena beban perasaan yang sejak tadi ia pikul sendirian.
Tak hanya sampai di situ. Di tengah usahanya menyusuri banjir yang kian meninggi, ia baru menyadari satu hal yang tak kalah menakutkan - arusnya begitu kuat. Air yang tampak tenang di permukaan ternyata menyimpan dorongan yang tak bisa dianggap remeh.
Langkahnya mulai goyah. Setiap kali ia mencoba mengangkat kaki untuk maju, arus itu seperti menariknya kembali. Tubuhnya yang sudah lelah semakin sulit menjaga keseimbangan. Ia berusaha bertahan, menahan napas, menancapkan kaki sekuat yang ia mampu, tetapi tenaga yang dimilikinya tak sebanding dengan derasnya aliran air.
Di titik itu, ia sadar - melewati banjir ini bukan hanya soal keberanian, melainkan juga soal keselamatan.
Di tengah rasa putus asa yang hampir menguasainya, pertolongan itu akhirnya datang dengan cara yang tak pernah ia duga sebelumnya. Begitu baiknya Allah pada saat itu, seolah jawaban atas doa-doa lirih yang sejak tadi ia panjatkan dalam hati.
Dari kejauhan, terlihat kendaraan Polsek setempat yang tengah berkeliling menyusuri daerah terdampak banjir. Mereka memang sedang melakukan patroli, memantau kondisi lingkungan, sekaligus mencari warga yang membutuhkan bantuan.
Di saat tenaganya hampir habis dan langkahnya mulai goyah oleh derasnya arus, kehadiran mereka terasa seperti cahaya di tengah genangan yang tak bertepi. Pertolongan itu akhirnya benar-benar datang - bukan dari yang ia sangka, melainkan dari tangan-tangan yang memang diutus untuk menjaga dan melindungi.
Saat itu, mobil polisi tersebut perlahan melintasi genangan banjir yang masih deras mengalir. Sorot lampunya memantul di permukaan air yang keruh, membelah jalan yang hampir tak lagi terlihat bentuk aslinya.
Melihat kendaraan itu semakin mendekat, tanpa ragu ia mengumpulkan sisa tenaga yang ada. Dengan suara khasnya - yang kini bercampur antara dingin, lelah, dan harap - ia berteriak, “Tolong, Pak… tolong, Pak…” berulang kali dengan kalimat yang sama.
Tak ada lagi yang ia pikirkan selain bagaimana suaranya bisa terdengar. Di tengah derasnya arus dan gemuruh hujan yang tersisa, teriakan itu menjadi satu-satunya cara agar keberadaannya disadari—agar ia tidak lagi berjuang sendirian di tengah banjir yang hampir menelannya.
Dengan sigap, mobil itu menghentikan lajunya tak jauh dari tempat perempuan itu berdiri. Pintu kendaraan segera terbuka, dan seorang bapak polisi turun tanpa ragu, menerobos air yang masih mengalir deras untuk menolong warga yang terjebak di tengah banjir.
Perempuan itu, dengan payung yang sejak tadi ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari sisa hujan, berusaha mendekat sebisanya. Tangannya ia ulurkan perlahan, penuh harap, ingin memastikan bahwa ia juga terlihat - bahwa ia pun bagian dari warga yang membutuhkan pertolongan saat itu.
Di balik payung yang hampir tak lagi berguna menahan dingin, ada tatapan yang menyimpan campuran antara lelah dan lega. Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, ia merasa tidak sepenuhnya sendiri.
Tanpa benar-benar ia sadari, penampilannya saat itu jauh dari kata siap menghadapi keadaan seburuk ini. Ia hanya mengenakan hoodie abu-abu dengan penutup kepala yang sejak tadi ia tarik menutupi rambutnya, seolah itu cukup untuk melindunginya dari dingin dan hujan. Di bagian bawah, ia memakai legging pendek yang panjangnya hanya sebatas paha—pakaian rumahan yang sama sekali tak dirancang untuk berdiri lama di genangan air setinggi itu.
Masker duckbill berwarna putih masih setia menutupi sebagian wajahnya, entah untuk melindungi diri dari udara kotor atau sekadar menjadi tameng tipis bagi ekspresi lelah yang tak ingin ia perlihatkan.
Dalam keadaan sederhana dan seadanya itu, ia berdiri di tengah banjir, tanpa persiapan, tanpa perlindungan yang memadai—hanya dengan keberanian yang tersisa dan harapan agar semuanya segera berakhir.
Saat itu, di tengah keadaan yang serba tidak terduga, ia mulai menyadari sesuatu yang lain—penampilannya. Dengan hoodie yang basah, legging pendek yang tak pernah ia pakai untuk keluar rumah, dan kondisi yang bisa dibilang kacau, ia merasa seperti sedang melihat versi dirinya yang bukan dirinya.
Ada kekhawatiran yang pelan-pelan menyelinap di benaknya. Bagaimana jika ada seseorang yang mengenalinya? Bagaimana jika ada teman, kenalan, atau orang yang pernah terlibat dalam hidupnya melihatnya dalam keadaan seperti ini? Ia sempat berpikir, akan ia letakkan di mana wajahnya jika itu benar-benar terjadi.
Semua orang yang mengenalnya tahu satu hal tentang dirinya: ia bukan tipe gadis yang keluar rumah tanpa hijab. Bukan juga pribadi yang terlalu terbuka tentang dirinya. Ia memang tidak merasa dirinya paling salehah, tetapi ia selalu menjaga batas yang ia yakini. Dan hari itu, dalam situasi yang tak ia rencanakan, batas itu terasa seperti runtuh oleh keadaan.
Namun di balik rasa malu dan cemas itu, ada pelajaran yang diam-diam mengetuk hatinya - bahwa terkadang, hidup menempatkan kita pada situasi yang tak memberi ruang untuk terlihat sempurna. Yang ada hanya tentang bertahan.
Ia akhirnya duduk di bangku belakang mobil patroli itu, dengan atap yang terbuka dan angin dingin masih menyentuh wajahnya. Air yang melekat di pakaian belum sepenuhnya kering, namun setidaknya ia sudah tidak lagi berdiri melawan arus. Bukan hanya dirinya, beberapa penghuni kos lainnya pun ikut duduk bersamanya—wajah-wajah lelah dengan cerita yang hampir serupa.
Di sepanjang perjalanan singkat itu, pikirannya kembali berkelana. Ia sempat membatin, “Entah di mana pun nanti aku diturunkan oleh bapak polisi ini, sekalipun tidak ada driver Gojek yang bisa menjemput, aku akan tetap berjalan. Aku akan mencari rumah siapa saja yang bisa aku singgahi.”
Baginya saat itu, yang terpenting bukan lagi soal nyaman atau tidak. Bukan juga soal gengsi atau rasa malu. Ia hanya ingin menemukan tempat yang aman untuk berteduh, sekadar beristirahat dari hari yang terasa begitu panjang. Di bangku belakang mobil dengan atap terbuka itu, ia belajar satu hal lagi - kadang bertahan berarti siap melangkah ke mana saja, selama itu membawamu lebih jauh dari bahaya.
Pada akhirnya, kami yang dievakuasi oleh Bapak Polisi itu dibawa menuju salah satu kantor kelurahan di kawasan Medan Timur. Di sanalah untuk sementara waktu kami dipindahkan, menjauh dari rumah yang sudah dikepung air.
Ternyata, bukan hanya kami yang berada dalam situasi itu. Kantor kelurahan tersebut sudah lebih dulu dipenuhi oleh warga lain yang juga menjadi korban banjir. Beberapa di antara mereka datang dengan pakaian seadanya, wajah lelah, dan tatapan kosong yang menyimpan banyak rasa - khawatir, bingung, sekaligus pasrah.
Hari itu, kantor pemerintahan yang biasanya dipenuhi urusan administrasi, berubah menjadi tempat berlindung. Ruangan-ruangan yang biasa sunyi mendadak ramai oleh suara anak-anak, obrolan pelan para orang tua, serta langkah kaki yang hilir mudik mencari tempat untuk sekadar duduk dan beristirahat.
Di sinilah perempuan malang itu akhirnya berteduh. Di tengah kerumunan orang-orang asing yang bahkan namanya pun tak ia ketahui satu per satu. Mereka duduk berdampingan tanpa saling mengenal, namun dipersatukan oleh musibah yang sama.
Ia berusaha terlihat tegar, meski hatinya penuh sesak. Di antara warga lain yang juga menjadi korban, ia menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa rapuh yang sejak tadi ingin tumpah. Sesekali ia menunduk, merapikan pakaian yang sudah tak lagi rapi, berharap penampilannya saat itu tidak terlalu menjadi perhatian.
Lebih dari itu, ada satu ketakutan kecil yang terus mengusik pikirannya - semoga tidak ada seorang pun di lokasi itu yang mengenalinya. Ia belum siap jika harus menjelaskan keadaannya, belum siap jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin datang dengan rasa iba. Saat itu, yang ia inginkan hanya satu: menjadi bagian dari keramaian tanpa benar-benar terlihat.
Komentar
Posting Komentar