🍂 Part 1 — Ketika Keadaan Memaksaku Mengandalkan Diri Sendiri
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Halo, aku Puja. Tapi kalian bebas memanggilku apa saja - Puj(aa), Puj(ee), atau bahkan Pujaaaaaaaaaa sepanjang yang kalian mau. Di rumah, aku punya panggilan yang paling sederhana sekaligus paling unik: J(aaaaa). Iya, hanya ujung dari namaku sendiri, tapi entah kenapa panggilan itu terasa begitu dekat.
Di sinilah aku berada sekarang, sebagai si penulis di balik blog berlogo oranye ini. Sebuah ruang sederhana dengan lembaran putih yang selalu siap menampung apa pun yang berisik di kepalaku. Sebagian besar, aku menuliskan perjalanan hidupku - tentang hari-hari yang kulewati, atau tentang bagaimana rasa yang kadang sulit dijelaskan.
Namun, kalau boleh jujur, mungkin tidak semuanya benar-benar nyata. Bisa jadi, beberapa di antaranya hanyalah halusinasi yang terlalu hidup di kepalaku… lalu tanpa sadar, jari-jariku menuliskannya di sini, seolah hal itu benar-benar terjadi.
Dann inilah Aku, si bungsu - yang kata orang, si paling manja. Katanya juga, yang paling enak, karena apa-apa sering dituruti. Aku hanya sedikit bergumam dengan tawa kecil, seolah pernyataan tersebut memang benar adanya.
Di hidupku, Aku mempunyai beberapa abang, dan beberapa kakak. Dari luar, hidupku memang terlihat ramai - penuh suara, penuh cerita, penuh kehangatan. Seolah-olah, kata “sepi” tidak pernah benar-benar punya tempat di hidupku.
Namun, waktu berjalan dengan caranya sendiri.
Aku hidup bersama dengan kejadian yang perlahan mengubah segalanya. Satu per satu dari mereka mulai melangkah pergi dari rumah. Ada yang melangkah demi mencari sesuap nasi, ada yang pergi untuk memperbaiki nasib, dan ada pula yang pergi karena telah menemukan seseorang - jodoh yang datang dan mengajaknya membangun rumah baru.
Dengan keluarga yang begitu banyak, seharusnya hidup ini tidak terasa sepi - begitu pikir orang-orang.
Tapi jawabannya, hanya ada padaku.
Pelan-pelan, aku mulai memahami… bahwa sepi itu bukan soal ada atau tidaknya orang di sekitar. Sepi itu hadir ketika satu per satu dari mereka sudah memiliki hidupnya masing-masing. Ketika rumah ini tak lagi menjadi pusat dari segala pulang. Ketika kita, tanpa sadar, tak lagi menjadi “rumah” bagi mereka seperti dulu.
Dan di situlah perlahan aku menyadari bahwa - di antara kenangan yang masih tinggal, dan keheningan yang perlahan belajar untuk aku terima.
Kalau diingat kembali, Aku bertumbuh di dalam rumah sepetak kecil - berbentuk persegi sederhana, namun penuh cerita. Di dalamnya, ada tangga kayu yang selalu setia berdiri. Setiap tahun, ayah mengecatnya dengan warna yang berbeda - kadang merah, kadang cokelat, kadang putih. Dan tahun ini, tangga itu berwarna biru. Seolah ikut tumbuh bersama waktu, seperti kami yang perlahan berubah tanpa benar-benar sadar.
Dari rumah kecil itulah, aku menyaksikan satu per satu dari mereka pergi.
Pelan-pelan.
Mereka membawa ransel masing-masing, memanggul harapan yang mungkin lebih besar dari isi tasnya. Pergi dengan keyakinan bahwa di perantauan, nasib bisa ditata ulang, mimpi bisa diperjuangkan lebih jauh.
Ada yang melangkah ke negeri seberang - negara tetangga yang kental dengan nuansa Melayu. Ada yang pergi ke kota lain, kota yang dijuluki sebagai ibu kota provinsi, tempat segala kemungkinan terasa lebih dekat untuk diraih. Dan ada pula yang pergi dengan cara yang berbeda - melangkah keluar dari rumah, bukan untuk kembali sendiri, melainkan untuk membangun rumah baru bersama seseorang yang telah dipilihkan oleh takdirnya.
Namun, Aku memilih tetap di sini, bukan pilihan namun keharusan. Yang didukung oleh umurku bisa dibilang, masi terpaut usia dini.
Di rumah kecil dengan tangga biru itu, menjadi saksi dari kepergian-kepergian yang tak pernah benar-benar terasa biasa.
Lalu, Seiring berjalannya waktu, aku pun tetap menjalani hari-hariku. Kini, hanya bersama Ayah, Ibu, dan satu kakak perempuanku.
Hari demi hari kami lewati.
Namun, rasanya tak lagi sama seperti dulu.
Ada yang berubah, meski tak selalu terlihat. Rumah ini masih berdiri, tangga kayu itu masih ada, dan kami masih saling menyapa seperti biasa. Tapi di sela-sela itu semua, ada ruang kosong yang tak terucapkan - seolah ada sesuatu yang tertinggal, atau mungkin… sesuatu yang perlahan hilang.
Aku pun bertumbuh bersama waktu.
Entah mereka tahu bagaimana aku menjalani hari-hariku, bagaimana aku berproses menghadapi semuanya - atau mungkin, mereka tidak tahu sama sekali soal bagaimana aku bertumbuh. Jarak sepertinya bukan hanya tentang tempat, tapi juga tentang cerita-cerita kecil yang tak lagi sempat dibagikan.
Dulu, ketika mereka pergi, aku tidak terlalu menghiraukan rasa sepi itu. Aku tetap pergi bermain, tertawa bersama teman-temanku, seolah semuanya baik-baik saja.
Singkat cerita, aku mulai memperoleh hal-hal kecil. Dimulai sejak aku meraih peringkat empat. Sebuah pencapaian kecil yang seharusnya membuatku bangga. Namun, di balik itu, aku tak mengerti "Apa itu peringkat kelas" Tidak ada hal yang harus diapresiasi menurutku. Karena hal itu masih terlalu biasa biasa saja.
Harusnya Itu sebuah kabar baik, namun perasaan ku begitu sangat biasa saja. Tidak baik, tidak juga buruk. Lalu, ternyata itu hanya sebagian dari hal kecil sebagai pemanasan untuk meraih hal yang lebih besar.
Mungkin, Barangkali karena tak ada sorot bangga yang menyambut, pencapaian yang semestinya berarti itu pun perlahan terasa biasa saja. Seolah-olah ia hadir, namun tak benar-benar dirayakan.
Benar yang kukatakan sebelumnya, itu hanya sebagian kecil dalam penyambutan hal-hal besar.
Lalu, ketika di Sekolahpun,
Setiap kali guru memberiku PR, aku sering kali terdiam lebih lama dari biasanya. Bukan karena tidak mau mengerjakan, tapi karena aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Di rumah, aku seperti kehilangan sosok “guru” yang bisa membimbingku memahami pelajaran.
Ayah dan Ibu selalu pulang dalam keadaan lelah. Wajah mereka menyimpan cerita panjang tentang hari yang berat - tentang kerja keras yang tak pernah benar-benar usai. Aku tahu, lelah mereka bukan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk kami, anak-anaknya.
Karena itu, aku memilih diam.
Aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa, tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Aku hanya mencoba memahami semuanya sendiri, sebisaku, semampuku.
Beruntungnya, di tengah segala keterbatasan itu, Ibu tetap menemukan caranya.
Ia menyisihkan sebagian dari penghasilannya - mungkin tidak banyak, mungkin bahkan harus mengorbankan hal lain - hanya agar aku bisa mengikuti kursus belajar di luar sekolah. Sebuah cara sederhana, tapi sangat berarti. Seolah Ibu ingin berkata, “Aku mungkin tidak selalu bisa menemanimu belajar, tapi aku tetap ingin kamu punya kesempatan untuk memahami dunia.”
Dan dari situlah, aku perlahan belajar… bukan hanya tentang pelajaran sekolah, tapi juga tentang arti dari sebuah perjuangan yang diam-diam diperjuangkan untukku.
Terlepas dari itu semua, hidup tetap berjalan - seperti biasanya. Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan, tanpa benar-benar ada sosok yang menjadi guru, atau panutan yang bisa kutiru langkahnya.
Tidak ramai, namun tenang.
Itulah yang ada di pikiranku saat itu.
Aku menjalani semuanya dengan cara yang sederhana - tanpa banyak bertanya, tanpa banyak menuntut. Bahkan saat itu, aku belum benar-benar merasa bahwa mereka harus selalu ada di sekitarku. Seolah-olah, keadaan seperti ini adalah sesuatu yang wajar… sesuatu yang memang sudah seharusnya aku jalani.
Dan mungkin, tanpa kusadari, di situlah aku mulai belajar berdiri sendiri - meski pelan, meski tanpa banyak suara.
Ya, aku pun terbiasa dengan situasi itu.
Pada masa itu, sebuah keadaan yang belum sepenuhnya kupahami. Aku pun tak terlalu menghiraukan kesendirian yang perlahan hadir. Hidupku masih sederhana, berputar di antara sekolah dan bermain, tanpa banyak pertanyaan yang mengusik. Maklum saja, usiaku kala itu masih sekitar enam atau tujuh tahun, usia di mana dunia terasa ringan, dan segala hal dijalani tanpa perlu dimengerti terlalu dalam.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, usia terus bertambah dan aku pun ikut tumbuh bersama setiap proses yang dilewati. Hari demi hari membentuk diriku menjadi seperti sekarang, namun ada satu hal yang tidak banyak berubah: lingkungan di sekitarku. di usia saat itu, sekitar 6 tahun sampai dengan di umur 19 tahun, Orang-orang yang hadir dalam hidupku masih itu-itu saja, tanpa banyak pergantian ataupun cerita baru yang datang silih berganti.
Hidup terasa berjalan tenang, bahkan terkadang terlalu tenang. Seolah waktu hanya bertugas menambah angka pada usia, bukan membawa warna baru dalam perjalanan hidupku. Lingkaran yang sama, suasana yang sama, dan cerita yang hampir serupa terus menemani langkahku hingga hari ini.
Seolah keadaanlah yang perlahan membentuk kepribadianku hingga menjadi seperti sekarang. Semua terjadi begitu saja, tanpa pernah benar-benar kusadari. Dari banyak hal yang kulewati, aku tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa melakukan semuanya sendiri. Dan entah sejak kapan, kata “mandiri” akhirnya melekat dalam diriku.
Eits, tapi bukan Mandiri yang itu ya… bukan bank juga, hahaha......
Teman-teman bloggers-nya Puja, bab ini adalah awal dari segalanya. Ini bukan sepenuhnya tentang aku, kamu, ataupun mereka. Bisa jadi, semua yang tertulis di sini hanyalah serpihan halusinasi, sudut pandang, atau isi kepala dari masing-masing kita.
Tentang ceritaku, nggak perlu terlalu dimasukkan ke hati. Tapi kalau ada pelajaran yang bisa kalian ambil dari setiap kata yang kutulis, tentu itu sangat dianjurkan, hehe.
Karena sebenarnya, tujuan aku menulis bukan hanya sekadar bercerita, tapi juga ingin menginspirasi kalian lewat hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupku, ataupun beberapa hal yang bahkan belum pernah terjadi. Dan untuk bagian yang “belum terjadi” itu… yaa, bisa jadi semuanya hanyalah hasil dari halusinasiku sendiri.
Enjoy ya, guys! Jangan lupa tetap sehat-sehat dan belajar menghargai setiap waktu yang terus berlalu. Karena pada akhirnya, kita memang bisa mengenang banyak hal, tapi tidak bisa mengulang semuanya kembali.
Mungkin sebagian dari kalian akan merasa relate dengan setiap cerita yang kutulis di sini. Atau mungkin juga, ada yang baru pertama kali membaca dan menyadari bahwa ternyata ada sisi kehidupan seperti ini yang benar-benar ada.
Dan satu hal lagi… kalau kalian semangat buat terus membaca, aku juga bakal tetap semangat everydaaaayyyyy buat lanjut nulis dan berbagi cerita-cerita berikutnya. Jadi, sampai ketemu di tulisan selanjutnya yaa! ✨
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar